
SEMARANG, agengkiwi.com – Rona ketegangan bercampur harapan terpancar dari wajah 340 pemuda yang memadati Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah pada Senin (21/7/2025). Berasal dari 13 provinsi di Indonesia, mereka memulai babak krusial dalam hidupnya: seleksi ketat program magang ke Jepang, sebuah gerbang menuju etos kerja kelas dunia.
Acara yang dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, ini bukan sekadar proses rekrutmen. Ini adalah bagian dari strategi besar negara untuk melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul. Para peserta akan diuji kemampuannya dari sisi akademik, ketahanan fisik, hingga kesehatan, demi tiket kerja selama tiga tahun di Negeri Matahari Terbit.
Dalam arahannya, Sumarno menitipkan sebuah mandat penting. Ia menegaskan bahwa program ini bukanlah jalan untuk “hilang” di negeri orang, melainkan sebuah misi untuk “belajar kerja” yang dibayar.
“Harapan yang besar adalah bagaimana kita menuju Indonesia Emas 2045 dengan sumber daya manusia yang unggul. Oleh karenanya, kami minta adik-adik semua benar-benar bisa menyerap ilmu di sana, dan dibawa kembali ke Indonesia,” tutur Sumarno dengan nada penuh harapan.
Ia menggaungkan konsep “Mbalik Desa” (Kembali ke Desa) sebagai tujuan akhir. Setelah tiga tahun menimba ilmu dan pengalaman kerja, para pemuda ini diharapkan kembali menjadi motor penggerak ekonomi di kampung halaman.
“Mereka akan bekerja juga (saat kembali ke Jateng) dan bisa mengangkat perekonomian keluarga. Kunci pengurangan angka kemiskinan adalah bagaimana mereka bisa bekerja secara berkelanjutan, memperoleh pendapatan, dan syukur-syukur bisa mencetak lapangan pekerjaan baru nanti,” jelasnya.

Tepis Isu Boikot, Kredibilitas Pekerja Jateng Diakui
Di tengah antusiasme yang tinggi, Kepala Disnakertrans Jateng, Ahmad Aziz, menggunakan kesempatan tersebut untuk menepis isu meresahkan yang beredar di masyarakat. Ia secara tegas menyatakan bahwa informasi tentang boikot pekerja Indonesia di Jepang pada 2026 adalah berita bohong atau hoaks.
“Berita itu tidak betul. Kementerian Luar Negeri melalui KBRI-nya sudah memberikan pernyataan bahwa itu tidak betul, dan kami konfirmasi juga ke teman-teman LPKSO (Lembaga Penyalur Kerja Sending Organization), itu tidak betul,” tegas Aziz.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan melakukan verifikasi ke dinas ketenagakerjaan setempat jika menemukan iklan lowongan kerja di luar negeri yang menjanjikan gaji fantastis.
Kredibilitas pekerja Indonesia, khususnya dari Jawa Tengah, justru mendapat pengakuan. Kepala Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Semarang, Fikri Kurnia, mengungkapkan bahwa sejak program ini berjalan pada 1993, pekerja asal Jateng menjadi salah satu yang paling diminati.
“Provinsi Jawa Tengah salah satu favorit (bagi perekrut di Jepang). Karena sikap dan budaya masyarakat Jawa Tengah ini mungkin bisa diterima di Jepang dibanding yang lain,” jelasnya.

Program ini sendiri telah memberangkatkan total 60.000 pekerja magang, di mana mayoritas dari mereka berhasil bekerja atau membuka usaha mandiri sekembalinya ke Indonesia. Tingkat persaingannya pun sangat ketat. Aziz mencontohkan, dari 472 pendaftar pada tahun 2024, hanya 97 orang yang berhasil lolos di tingkat provinsi untuk mengikuti pelatihan lanjutan di Bekasi.
Kini, 340 pemuda di hadapan para pejabat itu siap bertarung untuk menjadi angkatan berikutnya. Mereka tidak hanya membawa mimpi pribadi, tetapi juga harapan dan misi besar dari negara di pundak mereka.
Sumber: https://jatengprov.go.id/rilis