JAKARTA, humaniora.id – Bahasa Ngapak, terutama Banyumasan memiliki eksotisme tersendiri dalam budaya Indonesia. Merupakan dialek Jawa unik dengan ciri khas pelafalannya.
Dikenal kaya ungkapan khas, humor, dan keakraban. Kerap digunakan untuk merefleksikan realitas sosial masyarakat penuturnya.
Ciri khas Ngapak yang humoris dan autentik juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pembuat film untuk menggunakannya dalam dialog dan karakterisasi peran. Salah satunya adalah film “Banyak Anak Banyak Rejeki” produksi Black White Pictures.
“Memang Logat Ngapak sering dianggap lucu dan menjadi sumber humor dalam film. Makanya ora Ngapak wagu! (tidak berbahasa Ngapak enggak cocok). Karena inilah yang menarik minat penonton,” ujar seniman serba bisa Ageng Kiwi kepada humaniora.id di Jakarta, Minggu (08/06/2025).
Selain bermain di banyak film dan sinetron, Ageng Kiwi kali ini dipercaya menokohkan peran Ayah dalam film besutan sutradara Tyas Asko ini. Bukan Ayah biasa, melainkan seorang bapak suku Jawa asal Banyumas Jawa Tengah yang lama tinggal di Jakarta.
Sebagai aktor yang lahir di Desa Jeruk Legi Kabupaten Cilacap, wilayah eks-Karesidenan Banyumas, tak sulit bagi Ageng Kiwi untuk mengeksplorasi perannya.
“Terlepas inyong asli wong Cilacap, sebagai aktor memang harus memiliki fleksibilitas dan kemampuan memerankan berbagai karakter. Aktor harus siap beralih dari satu karakter ke karakter lain,” jelas Ageng Kiwi, yang mengaku selama ini justru banyak mendapatkan peran-peran antagonis di sejumlah filmnya.
Wong Ngapak Dalam Film Indonesia
Eksploitasi bahasa dan logat Ngapak dalam film Indonesia memang cukup panjang. Pelopor aktor dan komedian berbahasa Ngapak dan paling fenomenal adalah S. Bagio. Generasi berikutnya kemudian muncul Indro dan Kasino, dari Warkop DKI.
Setelah kematian Nanu Mulyono salah satu personilnya Warkop DKI, Indro akhirnya kerap tampil sebagai orang Batak, karakter yang biasa diperankan Nanu Mulyono.
Tentu masih banyak lagi aktor-aktor film, bintang televisi, serta komedian berbahasa Ngapak yang juga survival dan meraih popularitas di industri hiburan tanah air. Seperti Darto Helm, atau Cici Tegal – meskipun Cici “Tegal” tidak seikonik para komedian dengan bahasa Ngapak Banyumasan.
“Saya bangga dan bahagia dikasih kesempatan mempresentasikan budaya daerah saya dengan bahasa Ngapak Banyumasan. Dengan begitu saya bisa ikut melestarikan budaya dan memperkuat identitas bahasa Jawa Ngapak melalui film ini,” tegas Ageng lagi.
Didedikasikan oleh para sineas profesional, baik aktor dan tim kreatifnya, Ageng Kiwi meyakini bahwa film ini akan seru dan menuai sukses.
“Saya yakin film ini bakal sukses karena seru banget. Di film ini berkumpul bintang-bintang legendaris dengan karakter peran masing-masing perpaduan bahasa daerah. Film ini selain kocak, lucu habis juga kaya budaya bahasa dengan gaya dan logatnya. Ada Betawi, Ngapak, Madura, dan lain-lain,” ujar Ageng Kiwi.
Film Ke-4 Produksi Black White Pictures
Film “Banyak Anak Banyak Rejeki” diproduksi Black White Pictures. Bertindak sebagai Produser Fadli Fuad yang juga merupakan pemeran utama pria dalam film ini. Fahreza Habsy Co.Producer, Theza Azwir Line Producer, Fikri Alatas Associate Producer, dan Maria Salikin, SH Legal Advisor.
Ide Cerita dan Skenario dipercayakan kepada Kaka Endi, Sutradara Tyas Asko, Director of Photography Budi Utomo, Editor Benjamin Aussie, Penata Artistik Jay Art, Penata Musik BenQ, dan Sound Mixing Delon Sagita.
Black White Pictures sebelumnya telah memproduksi film “Hantu Biang Kerok” (2009) disutradarai Wiendy Widasari, “Persembahan Terakhir The Movie” (2015) disutradarai Akhmad Faisal, dan film “Sumur Jiwo 1977” (2024) disutradarai Egi Fedly.
Didukung Puluhan Aktor Legendaris
Film ini dibintangi puluhan artis senior maupun pendatang baru. Sebagian merupakan aktor comedian, antara lain; Opie Kumis, Ramdhani Qubil AJ, Harry de Fretes, Bopak Castello, Daus Separo, dan beberapa pelakon stand up comedy yang namanya kini sedang naik daun.
Film ini juga dibintangi sejumlah pemeran lainnya, seperti Elvy Sukaesih, Yatti Surachman, Eddie Karsito, Ageng Kiwi, Dawiyah, Habib Firly Bin Zein Alhabsyi, Revaldo, Mandy Edenia, Baba Madun, Ali Gohom, Rivaldo Kapsul Waktu, Rena Tabitha, Marla, Astrid Rere, dan belasan pemeran lainnya. Termasuk pemeran cilik Hanif MZ, dan Noia Oren.
Pemeran dan penyanyi Indonesia popular Nugie juga terlibat peran dalam film ini. Nugie dikenal sebagai salah satu drumer di grup musik The Dance Company bersama Ariyo Wahab, Baim, dan Pongki Barata.
Termasuk keterlibatan inovator dan kreator Richard Buntario yang ikut berperan dalam film ini sebagai pemain. Beliau juga sutradara, produser film, dan talent scouter yang banyak melahirkan artis-artis ternama di Indonesia.
Ringkasan Cerita
“Banyak Anak Banyak Rejeki” mengangkat kisah kehidupan seorang penggali kubur bernama Babeh Rojali atau yang biasa disapa Bang Jali, yang tinggal pinggiran kota Jakarta.
Sejak muda sampai tua Bang Jali menjalani profesi sebagai penggali kubur. Bang Jali banyak meratapi hidup yang semakin sulit penuh himpitan ekonomi yang mencekik.
Bang Jali mempunyai istri bernama Siti Juleha yang selalu sabar dan setia mendampingi. Pasangan suami istri ini dikaruniai tiga orang anak yang masih kecil bernama Hendrik, Ari, dan Laila.
Kehadiran ketiga anak mereka di tengah himpitan ekonomi membuat mereka berpegang teguh pada pepatah “Banyak Anak Banyak Rejeki.” Namun pepatah tersebut sesungguhnya mengandung makna lebih mendalam dari sekadar jaminan materi.
Anak-anak adalah anugerah yang perlu dihormati dan diperlakukan dengan baik, sambil tetap berusaha dan berdoa dimana sesungguhnya “Banyak Anak Banyak Rejeki, Yang Harus Dicari”.
Suatu malam di saat kota Jakarta sedang diguyur hujan deras, Bang Jali sibuk menaruh beberapa ember untuk menadah tetesan air dari bocoran rumahnya. Ditemani istrinya Siti Juleha sambil menenangkan suara tangisan ketiga anaknya yang ketakutan karena mendengan suara petir bergemuruh.
Seseorang datang ke rumah mereka memberi kabar bahwa Bang Jali mendapat tugas dadakan agar segera ke TPU. Tanpa pikir panjang Bang Jali langsung bergegas mengambil peralatan dan berangkat menuju ke lokasi TPU.
Sambil menggali kuburan, Bang Jali selalu berteriak mengeluarkan umpatan berisi keluh kesah. Bang Jali berharap Tuhan dikabulkan doanya agar menjadi orang kaya dan ia sudah bosan jadi orang susah.
Saat menggali kubur di tengah hujan lebat disertai suara gemuruh petir, tiba-tiba pacul yang dipegang Bang Jali mengenai benda keras. Bang Jali kaget setelah melihat benda keras tersebut ternyata bongkahan emas berukuran besar.
25 tahun berlalu hidup Bang Jali berubah menjadi keluarga kaya. Bang Jali tidak menyadari masuk dalam babak baru dalam hidupnya di mana masalah demi masalah timbul silih berganti.
Seiring waktu apakah Bang Jali menemukan kebahagiaan di sisa hidupnya. Apakah benar bahwa doanya meminta harta dan kekayaan dapat menimbulkan kebahagiaan yang hakiki? Jawabnya hanya ada di film“Banyak Anak Banyak Rejeki”./***